Setelah lulus sekolah, mau kemana?
December 31, 20184 tahun berlalu begitu cepatnya, dan satu momen yang tak bisa terlupa..
Menjadi mahasiswa psikologi bukanlah impianku sedari aku remaja. Menginjak kelas X SMA, memang aku sering membaca buku tentang psikologi populer. Dari mulai pemetaan 4 kepribadian, ada sanguinis, plaghmatis, melankolis, dan koleris sampe doyan banget iseng ngisi-ngisi tes psikologi. Tapi waktu itu, aku masih suka gambar, skill ku dalam teknik gambar menggambar gak perlu diragukan lagi. Bahkan aku dulu pernah menyabet gelar dua tahun berturut-turut lomba karikatur tingkat sekolah.Kecintaanku pada menggambar waktu itu kudapat dari salah satu mangaka terhebat di jepang, orang yang bertanggung jawab dibalik cerita si bajak laut monkey d luffy. Tiap malam aku berlatih ingin seperti Eiciro Oda. Sampai pada titik dimana waktu itu sekolahku kedatangan kakak-kakak kece dari salah satu perguruan tinggi di surabaya.
Mereka mahasiswa DKV. Sangat asing di telinga anak SMA ingusan kayak aku. Hah? DKV? desain komunikasi visual mereka menjelaskan dengan mantap kepanjangan dr jurusan yang sangat asing di telingaku. Mereka mempresentasikan apa aja yang pelajari dan kuasai selama menjadi mahasiswa DKV. Waww diluar dugaanku, ternyata ada ya jurusan yang keren abis kayak anak DKV di indonesia. Singkat cerita, mulai detik itu aku ingin jadi anak DKV.
Waktu pun beranjak begitu cepatnya, tak terasa sudah kelas XII aja. Banyak sensasi suka duka yang aku rasain waktu itu. Menjadi senior merupakan kebanggan tersendiri yang meletup-letup dari dadaku. Karena menjadi senior berarti menjadi puncak dari pada rantai makanan dalam istilah rimba. Singkatnya, kita (senior) lah yang paling berkuasa di sekolahan. Dan dukanya, adalah ketika aku mengetahui bahwa sebentar lagi aku akan berpisah dengan temen sebayaku. Banyak kenangan selama tiga tahun yang tinggal menjadi kenangan nantinya. Banyak teman yang dipastikan tidak bersua lagi dan menempuh jalan masing-masing. Sebelum beranjak kesitu, akupun belum menentukan mau kemana setelah lulus SMA.
Tiba saatnya dimana aku mulai banyak ditanyai oleh teman, sodara, dan orangtua. Mau kemana setalah lulus? Hati kecilku berkata bahwa aku pingin menjadi mahasiswa. Oke, menjadi mahasiswa haruslah memiliki jurusan tertentu. Disanalah awal mula dilema dimulai. Program-program konseling pun banyak diadakan oleh pihak sekolah. Yah walaupun tidak ditangani oleh konselor ahli. Sedikit banyak mengarahkan pada pola pikir bahwa kuliah bukan untuk mencari ilmu, tetapi untuk mencari jurusan mana yang lapangan kerjanya menjanjikan. Dari situ aku mulai merasa bahwa psikologi lah jurusan yang paling "prospek" masa depannya.
Kemantapan logikaku memilih psikologi tak dibarengi dengan kemantapan hatiku. Ketika pendaftaran snmptn, berat rasanya meletakkan jurusan DKV dibawah jurusan psikologi. Setelah pemilihan pun aku memilih untuk fokus UN yang sudah di depan mata alih alih menyesali keputusan tersebut. Berbagai dalih seperti, "ah kan mau ambil jurusan apapun kita tetep boleh menekuni hobi kita kan?" kemudian berkat mbah gugel akupun tau kalau di kampus ada yang namanya UKM. Semacam unit perkumpulan mahasiswa dalam hobi yang sama gitu. Okee ini dalih yang menurutku paling kuat. "gak papa lah masuk psikologi, toh entar bisa ikut UKM seni dan desain". Percakapan antar dalih menutup malamku sehari sebelum UN dimulai, dan aku pun memejamkan mata.
Tak terasa UN kelar, satu batu lompatan yang saat itu besar banget menurutku udah berhasil kulompati. Oke, perkara hasil itu belakangan. Saat itu yang terpenting adalah memikmati momen bersama teman sebaya. Perkumpulan setelah UN tak seperti perkumpulan yang sudah-sudah. Kami terasa begitu menikmati detik-detik hingga waktu memisahkan kami. Perbincangan yang paling lumrah saat itu adalah menanyakan tentang masa depan. Satu dua orang temanku ingin melanjutkan ke luar negeri, beberapa lainnya ingin di indonesia saja. Ada yang ingin kuliah, bekerja, bahkan ada gelagat dari teman dekatku yang sedang mencari-cari calon yang mau diajak nikah muda. Maklum, dia satu-satunya anak laki-laki di keluarganya yang bisa melanjutkan estafet bisnis keluarganya. Hmmm perasaan sedih, terharu bercampur aduk dalam obrolan malam itu. Sungguh aku akan merindukan mereka.
Libur telah tiba. Pasca UN, sekolah sudah nonaktif bagi siswa kelas xii. Aku dan teman-temanku berencana menjajal sekaligus mengasah kemampuan bahasa inggris kami. Kampung inggris pare lah kami rasa tempat paling tepat untuk menyalurkan minat kami. Berangkatlah kita berempat menimba ilmu disana. Belajar hidup seperti anak kos, lumayan pemanasan sebelum kuliah nanti. (Eh pede betul ya, keterima aja belum, wkwk). Disana aku mengambil program di berbagai lembaga. Di pare, ternyata terdapat banyak banget lembaga kursus. Mirisnya, peluang tersebut hanya dimanfaatkan sebagai komoditas bisnis belaka, alih-alih mengajarkan bhs inggris yang baik dan benar. Hanya opini yang kudapat hasil dari cangkrukan bersama salah seorang mentor di kursusku yang juga menyayangkan hal tersebut.
Seminggu berlalu, seminggu lagi tersisa. Tak terasa sudah separuh jalan aja kita di kampung inggris. Matahari begitu terik siang itu. Program pagiku selesai pukul 12 tepat. Memang aku berangkat bersama temanku namun ketika disana kita sepakat untuk tak mengambil program di satu lembaga yang sama. Itung-itung biar nambah temrn dimana-dimana. Saat itu temanku program paginya sejam lebih cepat dr programku. Sepulang dari program, kuputuskan langsung kembali ke kost. Sesampainya disana, kost ku kosong melompong. Pada kemana nih si tetek bengek. "palingan juga nyari makan" bisik hati lirih. Kurebahkan badanku di atas kasur. Mapan betul. Tiba-tiba terdengar suara kayuhan sepeda yang kencang dr kejauhan perlahan seperti mendekat ke kost kamar. Disusul rem mendadak kayuhan tersebut berhenti tepat di depan kost. Aku beranjak ingin sekali mengumpat. "dho!!!!!" teriak temanku sebut saja men mengurungkan niatku mengumpat. "awakmu lolos SNMPTN!!!".
Satu yang aku pikirkan saat itu adalah aku bahagia bisa lolos untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Setelah kuketahui bahwa psikologi lah yang aku tulis di urutan pertama saat aku mendaftar, kembali lagi ke pernyataan awal, "aku bahagia?" atau "benarkah aku bahagia?". Dan begini lah aku dengan dilemaku. Mengikuti ambisi atau terjerembab dalam tuntutan lapangan pekerjaan.
1 Januari 2019
Pict by psychologika

0 Comments