Hal Yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Memilih Jurusan Psikologi

January 02, 2019


Ini yang bakal kamu rasain saat jadi mahasiswa psikologi~

Setelah mengetahui bahwa saya keterima di jurusan psikologi, ekspektasi yang saat itu terbayang adalah saya bakalan jadi mahasiswa yang keren. Banyak juga dari teman saya yang mengamini hal tersebut  setelah mengetahui bahwa saya lolos melalui jalur undangan. Wah, sudah jurusan psikologi, masuk melalui jalur undangan pula. Auto jadi orang terkeren sedunia.

Yah namanya juga ekspektasi yaa, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa biasanya ekspektasi  berlebih akan mengarah kepada lara ning ati. Benar saja, setelah menjalaninya saya pikir-pikir saya nelangsa lo ternyata, bukan keren.  Disini saya ingin sedikit nyeritain pengalaman saya saat menjadi mahasiswa psikologi.

  • Peramal detected

“baca karakter aku dong”, “bacain tangan aku dong”, “bacain masa depan aku dong”, woyy mas mbaa baca baca dikira mocapat apa ya. Meskipun rosul memerintahkan kita untuk “iqro”, baca kepribadian atau karakter tidak semudah itu ferguso, kalo kata netijen.

Sebagai korban dari kata-kata diatas saya merasa sedih. Bukannya apa, dalam ilmu psikologi, untuk mendiagnosa sebuah kasus harus melalui beberapa tahapan pengumpulan data. Dari observasi, psikotes, hingga wawancara. Kemudian untuk interpretasinya hanya lulusan S2 yang diijinkan melakukan hal tersebut.  Saya mah sebagai mahasiswa kroco bisa apa atuh. Hiks.

Saya tau konteksnya becandaan untuk mencairkan suasana. Misalkan ketika saya ketemu teman baru dari fakultas yang berbeda gitu, anak tersebut memulai pembicaraan dengan kata-kata seperti itu tidak masalah. Nahh ini, masalahnya tidak semua anak seperti itu. Sebagian orang diam-diam berharap betul bahwa saya mau membaca tangan mereka. Berharap bahwa masa depan mereka yang selama ini masih misteri bisa terungkap hanya dengan membaca garis tangan.

  • Dikira kerjanya di rumah sakit jiwa aja

Banyak terjadi ketika dalam suasana perkumpulan keluarga. Yap, kata-kata seperti “kerjanya di rumah sakit jiwa ya nanti?”, atau “banyak ketemu anak autis dong?”. Hmmm yasudalaa, sebenarnya juga gak seratus persen salah sih, kurang tepat aja.

Pertama, ilmu psikologi cakupannya luas banget, esmeralda. Saat menginjak semester 5 saya mulai memilih mau memilih konsentrasi di bidang apa. Untuk bidangnya tiap-tiap kampus berbeda-beda, tergantung kurikulum dan kebijakan kampus masing-masing. Untuk kampus saya, ada 5 peminatan diantaranya, pendidikan, sosial, industri dan organisasi, klinis, dan perkembangan. Untuk pembahasan tentang peminatan tersebut akan saya bahas secara detail di artikel saya berikutnya.

Kedua, gak semua orang gangguan jiwa itu autis lhoo buuk. Jangan mentang-mentang abis baca dari artikel daring yang bilang kalau anak yang suka mojok di pinggir ruangan dan tidak suka bergaul itu autis. Ehh, ternyata pas dia liat anaknya ternyata bertingkah begitu di sekolahnya lalu anaknya di vonis autis. Sakiit tau. Yahh intinya dalam ilmu psikologi klinis, untuk gangguan jiwa kami memiliki buku pedoman khusus semacam buku tutorial harvest moon lah. Bedanya, buku ini tebel banget. Saya sih gakuat ya mau bacanya. Bahasa inggris semua lagi. Mamam~

  • Anti stress stress club

Sakit loh. Kata-kata seperti “kamu kan anak psikologi, bisa stres juga ya”. Hmm, ya bisalah bambang, kan saya juga manusia. Saya juga punya berbagai masalah dan lika liku kehidupan sama seperti kalian. Wong saya juga manusia biasa yang pastinya punya kelemahan.

Memang, terkadang saya untuk masalah tertentu saya masih bisa dengan tenang menganalisa dengan teori yang sudah saya pelajari. Misalkan saat saya bertemu dengan orang nggateli yang mengucapkan kata-kata diatas barusan, saya masih bisa memahami. Oh iya, karakter orang beda-beda. Dia hanya mencoba mengasosiasikan saja apa yang saya pelajari dengan perilaku saya. Kata hati kecil saya setengah mangkel.

Yah walau bagaimanapun, saya tetap kudu legowo nerima pola pikir masyarakat awam mengenai mahasiswa psikologi yaa. Ya masa saya marah-marah ke mereka karena mereka punya pemikiran seperti itu. Kan enggaa. Wong mereka juga saya yakin niatnya cuma untuk berbasa basi saja, sekedar untuk mencairkan suasana. Toh, saya juga mungkin berbuat hal yang sama ke jurusan-jurusan lainnya. Misalnya ke anak teknik saya bakal bilang “kasian gak punya temen cewek” karena 9 dari 10 mahasiswa disana isinya cowok, begitu juga ke anak seni rupa saya bakal bilang “mahasiswa gak pernah mandi”, anak ekonomi yang terkenal hits-hits pun gak luput dari perkataan “mahsiswa pelit” dan jurusan-jurusan lainnya yang tak luput dari stereotip-stereotip yang berkembang.

Akhir kata, saya mengganggap tulisan ini sebagai curahan hati yang tak pernah tersampaikan aja. Cielah. Juga sebagai referensi bagi calon mahasiswa baru mungkin yang masih bingung “apakah jurusan psikologi adalah jurusan impian saya?”, tulisan ini mungkin bisa jadi pertimbangan untuk menentukan pilihan ya. 

You Might Also Like

0 Comments

Like us on Facebook