Mulai Aja Dulu
January 12, 2019
Kehidupan setelah sidang skripsi tidak lah mudah. Di kehidupan yang sedang saya jalani sekarang, saya sedang berada di ambang batas antara menjadi mahasiswa atau sebagai pengangguran. Di sisi lain, saya officially (cie naq jaksel) sudah lulus dari perkuliahan karena telah menyelesaikan tanggungan skripsi saya. Tapi ternyata masih banyak sekali yang harus diurus agar bisa mendaftar wisuda di periode terdekat ini tepatnya di bulan februari. Dari mulai revisi, menulis artikel, dan urusan birokrasi lainnya. Huft.
Kenapa saya bilang ambang batas mahasiswa dan pengangguran, ya emang mau disebut mahasiswa juga saya sudah sidang skripsi, ya kaan. Saya juga tidak lagi memiliki sks yang harus ditempuh. Dibilang pengangguran juga belum resmi-resmi amat, soalnya KTM saya masih berlaku. Tapi di titik ini juga, saya mulai mencium aroma-aroma pengangguran begitu kuatnya. Hmmmhh~
Bayangkan saja, kehidupan saya sehari-harinya hanyalah pergi ke kampus untuk memburu tanda tangan dosen dan terus mengintili pihak TU perihal jumlah mahasiswa yang sudah mendaftar wisuda. FYI, untuk wisuda periode terdekat, jumlah maksimal yaitu sebanyak 1200 kepala. Jikalau sudah memenuhi kuota, maka saya cuma bisa (lagi-lagi) datang ke wisuda teman saya.
Sementara itu, terhitung dari periode desember hingga januari, banyak sekali lowongan-lowongan kerja bertebaran di media daring dan medsos khusunya instagram. Maksud hati ingin melamar pekerjaan tertentu, biar setelah wisuda langsung kerja. Tapi tentu tak semudah itu, misalkan saya benar ketrima, artinya saya tidak bisa total tiap hari ngampusdari pagi sampe sore bahkan, buat memburu tanda tangan dosen. kalau sudah begitu, buyarlah impian saya mengikuti wisuda bareng teman-teman. Bingung kan.
Dilema berkepanjangan berbuntut pada kegabutan dan lama-lama saya haus akan eksistensi ternyata. WordPress yang saya bikin dan mangkrak setahun saya buka kembali. Ingin rasanya saya menumpahkan semuanya disini, dalam tulisan dan aksara (skrg jadi anak indie senja). Setelah saya pikir-pikir, saya menyukai menulis dan saya mau dibayar kecil sekalipun di bidang ini.
Maka dari itu, tagline mulai aja dulu saya pakai sebagai judul. Karena untuk menjadi yang kita impikan bukannya kita harus memulainya terlebih dahulu bukan? Awalnya saya pun bingung, dan takut untuk menjadi penulis professional harus mulai dari mana. Apa harus les menulis terlebih dahulu, atau harus baca banyak buku atau apapun itu yang akhirnya malah membuat saya semakin bingung. Dan pada ujungnya malah membuat saya tidak segera “start” untuk menulis.
Ya. Untuk memulainya hanya sesimpel itu lo ternyata. Mulai aja dulu. Ya nulis aja dulu. Apapun itu. Kata-kata itulah yang saya dengung-dengungkan tiap hari agar saya terpacu untuk menulis apapun itu. Baik curhatan -mostly-, essay, cerpen, artikel dan lain sebagainya.
2 Comments
Jika kamu udah mencapai ambang batas, aku masih berjuanberjuang untuk mencapai ambang batas itu .... . Yaaa, kita sama sama sedang berjuang . .... Tetap semangat 🚀
ReplyDeleteBtw, ntar kalau kamu punya anak , mungkin kamu orang tua berkubu pada penamaan senja, biru, banyu , langit, awan , sore, mendung , wkwkwkkw #mendadakindie
wahahaha, terimakasih sudah menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan anda dalam mengerjakan skripsi untuk membaca artikel unfaedah dari saya ini.
Delete